Kamis, 18 Agustus 2011

Mendidik anak : 3. KEBUTUHAN PSIKOLOGIS, PENUHI DENGAN DISIPLIN

mendidik anak dengan seimbang > KEBUTUHAN PSIKOLOGIS, PENUHI DENGAN DISIPLIN

4 kebutuhan dan pemenuhannya : spiritual fisik | | psikologis | emosional
Ternyata menjadi tegas yang efektif itu adalah menyampaikan sesuatu dengan tulus, relax, calm, berwibawa dan penuh keyakinan. Dengan begitu energi secara utuh akan tersampaikan kpd lawan bicara.
sebaliknya jika mencoba tegas dengan cara ngomel, menggerutu, cerewet, emosi dll, maka energi akan menguap menjadi omelan yang emosional itu.
masih kah kita akan menganggap ketegasan itu adalah kejam? NO!!.. tegas adalah bentuk kasih sayang yang akan membangun kepribadian

Manusia yang tidak memiliki aturan, seolah seperti hewan liar yang ada di hutan belantara. Padahal jika kita pelajari, sebetulnya hewan diberi naluri untuk menjalankan aturan-aturan alami. Misalnya, sekawanan anjing akan menyeleksi siapa pemimpin dari kawanan itu. Anjing mana yang paling cepat, paling besar, dan paling dominan lah yang akan memimpin kawanan itu. Begitu juga dengan hewan lainnya, mengikuti hukum yang selama ini kita kenal dengan hukum rimba. Anjing yang terlepas dari kawanannya dan dipelihara manusia, secara nalurinya, tetap memiliki kebutuhan untuk diatur. Yang mana jika si pemilik anjing tidak mengaturnya, maka anjing tersebut bisa menjadi dominan dan berlaku seenaknya di dalam rumah orang yang memeliharanya.
Kebutuhan akan aturan-aturan jelas adalah naluri manusia untuk menyempurnakan kondisi psikologisnya. Dengan aturan, manusia memiliki standar berfikir, berperilaku, dan bersosialisasi dengan orang lain. Standar ini lah yang biasa kita kenali dengan istilah nilai-nilai, atau norma-norma kehidupan. Ketika kita mendidik anak kita tanpa aturan-aturan, maka ia akan menjadi pribadi yang tidak mengenal nilai, tidak bisa di atur, atau lebih jauh menjadi pribadi yang anti sosial. Ketika anak tidak dibimbing dengan aturan, maka ia tidak mengenali displin, komitmen, dan tanggung jawab atas aturan yang berlaku.
Kita sebagai orang tua idealnya membekali anak-anak dengan nilai-nilai dan aturan. Jika ini tidak dilakukan, 2 kemungkinan yang akan terjadi. Anak kita dicap kurang ajar oleh orang lain, atau anak kita harus bergesekan dulu dengan lingkungannya, sebelum akhirnya ia mendapatkan nilai itu dari luar rumah, bukan dari tangan kita sendiri. Nah bahayanya adalah ketika ia menyerap nilai dari luar, tidak ada jaminan bagi kita untuk memastikan bahwa nilai itu adalah nilai yang benar, syar'ie, dan bisa dipertanggung jawabkan, atau itu hanya nilai yang ia dapatkan dari teman-teman seusianya, atau bahkan nilai yang bertentangan dengan akidah agama kita.
Penerapan aturan bisa dilakukan dengan latihan-latihan seperti ini :


1. Buatlah perjanjian : Aturan main harus jelas dan antisipatif, sebelum kejadiannya berlaku.
contoh : kita punya balita yang akan kita bawa pergi ke supermarket, dan kita khawatir jika si anak akan menjadi rewel dan membuat keributan. maka kita bisa mengantisipasinya dari sebelum kekhawatiran itu terjadi. Misalnya membuat perjanjian dengan mengatakan "nak, nanti jadi anak yang manis ya, kalau anak manis itu baik, bergembira, dan nurut sama ibu, kalau nggak nurut, ibu ngga mau bawa kamu lagi.." [DEAL]
Ini akan lebih bermanfaat daripada kita memarahi anak ketika sudah terjadi anak rewel dan meronta-ronta di pasar. dengan kesepakatan, kita bisa menagih janjinya yang sudah dia sepakati di awal.


2. Konsisten terhadap apa yang telah ditetapkan.
Apa yang sudah disepakati dengan anak, harus kita pegang secara konsekwen. Ketika kita sudah melarang untuk suatu hal, maka tidak ada ceritanya karena kasian sama anak, kita merubah aturannya menjadi boleh. ketika ini terjadi, yang akan berlaku adalah anak merasa keinginannya akan mudah diikuti, dan aturan dari mulut kita menjadi tidak berharga. Mereka bisa menjadi imun terhadap aturan kita.


3. Bangun kalimat dengan kata-kata positif
contoh : 
a. ketika anak mulai mau menangis, lebih baik mengatakan "Nak, ayo mana senyumnya, anak baik kan suka senyum dan senang hati?" daripada "ayo jangan nangis ah, kalo nakal ibu marah nanti"
b. Ketika anak menarik tangan kita untuk memaksa kita pergi ketempat yang dia inginkan, sedangkan kita sedang sibuk, maka lebih baik mengatakan, "Sabar ya sayang, kalau ummi sudah selesai nanti kita kesana, sabar ya nak ya... "  daripada ngomel "gimana sih rewel amat? ngga liat apa ummi lagi repot, tunggu dong,... diem!! ", yang kemudian anak bukannya jadi diem, tapi jadi tambah rewel, dan meronta-ronta.


4. Bersikap tegas dengan wibawa, bukan dengan emosi
Ternyata menjadi tegas yang efektif itu adalah menyampaikan sesuatu dengan tulus, relax, calm, berwibawa dan penuh keyakinan. Dengan begitu energi secara utuh akan tersampaikan kpd lawan bicara.
sebaliknya jika mencoba tegas dengan cara ngomel, menggerutu, cerewet, emosi dll, maka energi akan menguap menjadi omelan yang emosional itu.
masih kah kita akan menganggap ketegasan itu adalah kejam? NO!!.. tegas adalah bentuk kasih sayang yang akan membangun kepribadian

5. Satu kata antara ayah dan ibu, Hindari standar ganda
Hindarilah standar ganda, misalnya ibu melarang, tetapi ayah membolehkan. Atau ibu sedang menegur kesalahan anak, ayahnya membela anak. Standar ganda akan membuat anak bingung, yang akhirnya tidak mengindahkan kewibawaan orangtuanya.

6. Berlakukan reward dan punishment
Reward yang merupakan penghargaan kepada pencapaian anak akan suatu prestasi, tentunya akan memotivasi anak untuk melakukan yang terbaik demi tercapainya suatu tujuan.
Punishment juga diperlukan sebagai fungsi kontrol untuk mengembalikan perilaku anak kembali ke aturan yang telah kita buat.
Agar reward n punishment ini menjadi effektif, hendaknya dirancang dari awal, sebelum permasalahannya terjadi, silahkan merefer ke poin nomor 1 di atas. Lalu kemudian reward dan punishment ini benar-benar diberlakukan secara konsekwen seperti pada nomor 2 di atas.

7. Tataplah matanya ketika mengutarakan aturan dan nilai
Pastikan buah hati anda memahami apa yang anda sampaikan. Mintalah buah hati anda untuk melihat mata anda jika kita berbicara serius. Dengan kontak mata, anda membuatnya tidak hanya memahami kata-kata anda, tetapi memasukkan kata-kata anda kedalam rasa dan logikanya lebih dalam lagi.

8. Sabar dan ikhlas
Ujian kesabaran tidak pernah berhenti mendera kita ketika membesarkan anak. Ketika kita melarang, rasa kasian menjadi ujiannya. Ketika anak menangis karena permintaannya kita tolak, kesabaran kita untuk membiarkan anak menangis itu lah ujiannya. Apa jadinya jika setiap anak nangis, karena tangisannya itu kita jadi luluh dan meluluskan permintaannya? Yang akan terjadi adalah anak menggunakan tangisnya sebagai senjata untuk mendapatkan apa keinginannya. Ketika itu terjadi, maka kita telah membiarkannya menjadi anak manja dengan ketergantungan tinggi terhadap lingkungannya.

Ketika kita ingin konsekuen terhadap peraturan yang sudah ditetapkan, ujiannya adalah menjalankan aturan itu secara utuh. Ketika kita tegas, ujiannya adalah bertetap pendirian dalam ketegasan kita.
Sahabat, sabarlah, anak adalah titipan dari Allah untuk kita besarkan. Ikhlas lah, jika kesabaran kita sedang diuji, maka kita ingat bahwa yang kita sedang jalani adalah hanya karena Allah, hanya karena anak ini harus menjadi anak yang bisa mempertanggungjawabkan amalnya di hadapan Allah kelak. KarenaNya juga, kita bertanggung jawab menjadikan anak kita supaya sholeh sholehah. Agar kelak kita akan menghadap kepadaNya, kita telah mendidik anak kita untuk menjadi amal jariyah yang kita bawa ke liang kubur. Anak yang tidak dididik dengan baik bisa menjadi fitnah dunia dan akhirat.. Nauzubillah. Bayangkanlah sahabat, ketika kelak ditanya di yaumul hisab, kita ditanya telah dididik jadi apa anak kita, maka harusnya kita dengan senyum cerah ceria, menjawab pertanyaan itu dengan rasa bangga, karena kita telah mendidik anak kita menjadi hamba Allah yang taat, berguna bagi orang banyak. Amiin.

selanjutnya :
4. Kebutuhan emosional, dipenuhi dengan ekspresi kasih sayang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar