Kamis, 18 Agustus 2011

Mendidik anak: (4) Kebutuhan emosional, penuhi dengan ekspresi kasih sayang

mendidik anak dengan seimbang > Kebutuhan emosional, penuhi dengan ekspresi kasih sayang

4 kebutuhan dan pemenuhannya : spiritual | fisik | | psikologis | emosional

Sahabatku sekalian, coba kita bayangkan anak seperti apa yang akan tumbuh tanpa ada belaian kasih sayang. Apa rasanya jadi anak yang ia tidak tahu apakah ibu bapaknya menyayanginya atau tidak. Seperti apa jadinya anak yang tidak kenal dengan ekspresi perasaan sayang, peduli dan kasih terhadap sesama? Beberapa orang tua yang kurang beruntung akan mengerahkan segala daya upaya untuk mengatasi anaknya yang mengidap autisme. Lalu jika kemudian kita mempunyai anak normal, tetapi kita tidak menjadikannya orang yang ekspresif dalam peduli dan kasih terhadap sesama, maka seolah-olah kita tidak bersyukur atas kesempurnaan nikmat Allah berupa anak ini.

Jika dunia barat telah mengajarkan kita, " ucapkan lah ai lop yu setiap hari", maka sebetulnya agama Islam yang telah sempurna ini juga telah mengajarkan kita, melalui Rasulullah SAW bagaimana adab untuk mengekspresikan rasa peduli dan sayang kita, terhadap anak, terhadap orangtua, tetangga, istri, suami, saudara, orang miskin, bahkan terhadap kaum kafir yang tidak memerangi, atau bahkan sanderaan perang.. dan lain-lain.

Sebetulnya, mengekspresikan sayang terhadap anak ini adalah paling mudah, dan paling menyenangkan daripada 3 pemenuhan kebutuhan anak lainnya seperti pada postingan-postingan sebelumnya. Kita dengan mudah terbuai rasa sayang jika melihat binar mata anak kita yang lucu dan menggemaskan. Kita akan menggerakkan tangan kita untuk membelai rambut anak untuk membuatnya tidur, atau sekedar karena bertemu dengannya di pintu kamar. Yang tak kalah penting untuk dilakukan adalah : sampaikanlah perasaan sahabat kepada anak, dengan kata-kata yang secara jelas ia bisa dengar, dan ia pahami dengan rasa dan logikanya. Sampaikanlah kata-kata seperti "abi kangen sama kamu nak", atau "Ummi sayaaang banget sama kamu nak", sampaikanlah dengan kontak mata, tatap matanya, dan expresikan perasaan anda. Di kesempatan lain, mintalah anak anda untuk mengekspresikan perasaannya untuk kita.

Ketika kita tengah mengajari atau mengingatkan anak kita, duduklah jika ia duduk. Senyumlah ketika anda berbicara dengannya. Puaskanlah hatinya ketika ia sedang bermain, karena ini telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Beliau menegur seorang bapak yang menghentikan anaknya bermain. Rasa puas itu yang akan menyempurnakan perkembangan jiwanya.

Ya betul, poin ke 4 ini adalah paling mudah.. yaitu pemenuhan kebutuhan emosional. Maka dari itu penulis mengingatkan diri sendiri dan sahabat semua, untuk tidak melupakan 3 point sebelumnya, yaitu pemenuhan kebutuhan spiritual, fisik, dan psikologis. Karena kita harus menjaga keseimbangan dalam mendidik anak-anak kita. 

Wallahu'alam Bisshowab
AbiFarros

Mendidik anak: 2. Kebutuhan fisik, penuhi dengan olah raga yang cukup

mendidik anak dengan seimbang > Kebutuhan fisik, penuhi dengan olah raga yang cukup
4 kebutuhan dan pemenuhannya : spiritual | fisik | | psikologis | emosional


Kita sering menemukan perilaku yang mungkin tidak menyenangkan pada anak kita, seperti susah tidur, tidak berhenti mengganggu adiknya, terlalu enerjik di dalam rumah, berlarian dan berteriak tanpa lelah, dan seperti punya keinginan yang tidak ada habis-habisnya.
Ini terjadi tidak lain karena anak tidak berkesempatan untuk melepaskan energinya yang berlebih. Anak kita beri makan, berupa asupan nutrisi, kalori dan energi yang masuknya bisa lebih dari 3 kali sehari. Namun sering kita lupa bahwa energi itu tersimpan di dalam tubuh dan ototnya, tanpa dilepaskan dan membiarkannya bertumpuk tanpa dimanfaatkan.

Tubuh manusia di desain secara komplex untuk mencari makanan dari alam. Secara alami, manusia melakukan upaya keras secara fisik untuk memenuhi kebutuhan makanan ini. Dahulu kala, manusia harus menombak hewan, mengejar-ngejar unggas, menangkap ikan, berkuda, memanah, bercocok tanam dan berpindah ladang untuk bisa makan. Belum lagi aktifitas fisik lainnya seperti membangun gubug, memotong kayu dan lain sebagainya. Selama umur manusia, hal ini secara konsisten dilakukan. Keadaan kita sekarang dengan keberlimpahan makanan adalah keadaan yang mungkin hanya terjadi baru di 1 abad kebelakang, sejak terjadinya revolusi industri, yang menggelembungkan ekonomi dunia sehingga manusia mudah untuk mendapatkan kebutuhan primer bernama makanan ini. Akibatnya, yang terjadi adalah kebalikan. Manusia kini dengan mudah bisa makan, sudah tersusun rapi tinggal ambil di rak super market, tanpa harus melakukan aktifitas fisik seperti manusia di periode sebelum abad ini. Karena itu tidak heran di negara maju dan high economy society, penyakit obesitas atau kelebihan berat badan menjadi masalah paling umum.
Hal ini menerangkan secara jelas, kebutuhan manusia untuk berolah raga. Sebagaimana Rasulullah SAW juga melakukan balap lari dengan istrinya, Aisyah RA. Demikian juga kebutuhan ini harus dipenuhi oleh kita dan anak-anak kita. Anak yang seharian di depan tv, mondar-mandir di dalam rumah yang kegiatannya hanya makan dan tidur saja, tentu menjadi tidak seimbang. Kita hendaknya membawanya ke luar dan mengeksplor energi fisiknya menjadi kegiatan positif, melepaskan kelebihan kalori, dan memberikan kesempatan lebih banyak untuk anak menjelajahi alam luar dan mengeksplorasi lingkungannya. Juga tentunya melatih kemampuannya untuk bersosialisasi dengan anak lain, dan interaksi dengan orang lain.
Anak yang tidak terlatih fisiknya untuk bermain diluar, akan menyimpan masalah lebih banyak dari sekedar kelebihan energi. Hal ini bisa membawa lebih jauh ke depresi, stress, emosi yang tidak terkendali, tidak tahu keinginan yang jelas, dan tidur yang tidak nyenyak. Seperti halnya ikan besar yang masuk aquarium kecil, singa yang dikurung dikandang, atau burung yang biasa terbang kemudian masuk ke sangkar yang sempit.


selanjutnya : 

3. KEBUTUHAN PSIKOLOGIS, DIPENUHI DENGAN PENERAPAN NILAI DISIPLIN DAN ATURAN YANG JELAS


Mendidik anak : 3. KEBUTUHAN PSIKOLOGIS, PENUHI DENGAN DISIPLIN

mendidik anak dengan seimbang > KEBUTUHAN PSIKOLOGIS, PENUHI DENGAN DISIPLIN

4 kebutuhan dan pemenuhannya : spiritual fisik | | psikologis | emosional
Ternyata menjadi tegas yang efektif itu adalah menyampaikan sesuatu dengan tulus, relax, calm, berwibawa dan penuh keyakinan. Dengan begitu energi secara utuh akan tersampaikan kpd lawan bicara.
sebaliknya jika mencoba tegas dengan cara ngomel, menggerutu, cerewet, emosi dll, maka energi akan menguap menjadi omelan yang emosional itu.
masih kah kita akan menganggap ketegasan itu adalah kejam? NO!!.. tegas adalah bentuk kasih sayang yang akan membangun kepribadian

Manusia yang tidak memiliki aturan, seolah seperti hewan liar yang ada di hutan belantara. Padahal jika kita pelajari, sebetulnya hewan diberi naluri untuk menjalankan aturan-aturan alami. Misalnya, sekawanan anjing akan menyeleksi siapa pemimpin dari kawanan itu. Anjing mana yang paling cepat, paling besar, dan paling dominan lah yang akan memimpin kawanan itu. Begitu juga dengan hewan lainnya, mengikuti hukum yang selama ini kita kenal dengan hukum rimba. Anjing yang terlepas dari kawanannya dan dipelihara manusia, secara nalurinya, tetap memiliki kebutuhan untuk diatur. Yang mana jika si pemilik anjing tidak mengaturnya, maka anjing tersebut bisa menjadi dominan dan berlaku seenaknya di dalam rumah orang yang memeliharanya.
Kebutuhan akan aturan-aturan jelas adalah naluri manusia untuk menyempurnakan kondisi psikologisnya. Dengan aturan, manusia memiliki standar berfikir, berperilaku, dan bersosialisasi dengan orang lain. Standar ini lah yang biasa kita kenali dengan istilah nilai-nilai, atau norma-norma kehidupan. Ketika kita mendidik anak kita tanpa aturan-aturan, maka ia akan menjadi pribadi yang tidak mengenal nilai, tidak bisa di atur, atau lebih jauh menjadi pribadi yang anti sosial. Ketika anak tidak dibimbing dengan aturan, maka ia tidak mengenali displin, komitmen, dan tanggung jawab atas aturan yang berlaku.
Kita sebagai orang tua idealnya membekali anak-anak dengan nilai-nilai dan aturan. Jika ini tidak dilakukan, 2 kemungkinan yang akan terjadi. Anak kita dicap kurang ajar oleh orang lain, atau anak kita harus bergesekan dulu dengan lingkungannya, sebelum akhirnya ia mendapatkan nilai itu dari luar rumah, bukan dari tangan kita sendiri. Nah bahayanya adalah ketika ia menyerap nilai dari luar, tidak ada jaminan bagi kita untuk memastikan bahwa nilai itu adalah nilai yang benar, syar'ie, dan bisa dipertanggung jawabkan, atau itu hanya nilai yang ia dapatkan dari teman-teman seusianya, atau bahkan nilai yang bertentangan dengan akidah agama kita.
Penerapan aturan bisa dilakukan dengan latihan-latihan seperti ini :


1. Buatlah perjanjian : Aturan main harus jelas dan antisipatif, sebelum kejadiannya berlaku.
contoh : kita punya balita yang akan kita bawa pergi ke supermarket, dan kita khawatir jika si anak akan menjadi rewel dan membuat keributan. maka kita bisa mengantisipasinya dari sebelum kekhawatiran itu terjadi. Misalnya membuat perjanjian dengan mengatakan "nak, nanti jadi anak yang manis ya, kalau anak manis itu baik, bergembira, dan nurut sama ibu, kalau nggak nurut, ibu ngga mau bawa kamu lagi.." [DEAL]
Ini akan lebih bermanfaat daripada kita memarahi anak ketika sudah terjadi anak rewel dan meronta-ronta di pasar. dengan kesepakatan, kita bisa menagih janjinya yang sudah dia sepakati di awal.


2. Konsisten terhadap apa yang telah ditetapkan.
Apa yang sudah disepakati dengan anak, harus kita pegang secara konsekwen. Ketika kita sudah melarang untuk suatu hal, maka tidak ada ceritanya karena kasian sama anak, kita merubah aturannya menjadi boleh. ketika ini terjadi, yang akan berlaku adalah anak merasa keinginannya akan mudah diikuti, dan aturan dari mulut kita menjadi tidak berharga. Mereka bisa menjadi imun terhadap aturan kita.


3. Bangun kalimat dengan kata-kata positif
contoh : 
a. ketika anak mulai mau menangis, lebih baik mengatakan "Nak, ayo mana senyumnya, anak baik kan suka senyum dan senang hati?" daripada "ayo jangan nangis ah, kalo nakal ibu marah nanti"
b. Ketika anak menarik tangan kita untuk memaksa kita pergi ketempat yang dia inginkan, sedangkan kita sedang sibuk, maka lebih baik mengatakan, "Sabar ya sayang, kalau ummi sudah selesai nanti kita kesana, sabar ya nak ya... "  daripada ngomel "gimana sih rewel amat? ngga liat apa ummi lagi repot, tunggu dong,... diem!! ", yang kemudian anak bukannya jadi diem, tapi jadi tambah rewel, dan meronta-ronta.


4. Bersikap tegas dengan wibawa, bukan dengan emosi
Ternyata menjadi tegas yang efektif itu adalah menyampaikan sesuatu dengan tulus, relax, calm, berwibawa dan penuh keyakinan. Dengan begitu energi secara utuh akan tersampaikan kpd lawan bicara.
sebaliknya jika mencoba tegas dengan cara ngomel, menggerutu, cerewet, emosi dll, maka energi akan menguap menjadi omelan yang emosional itu.
masih kah kita akan menganggap ketegasan itu adalah kejam? NO!!.. tegas adalah bentuk kasih sayang yang akan membangun kepribadian

5. Satu kata antara ayah dan ibu, Hindari standar ganda
Hindarilah standar ganda, misalnya ibu melarang, tetapi ayah membolehkan. Atau ibu sedang menegur kesalahan anak, ayahnya membela anak. Standar ganda akan membuat anak bingung, yang akhirnya tidak mengindahkan kewibawaan orangtuanya.

6. Berlakukan reward dan punishment
Reward yang merupakan penghargaan kepada pencapaian anak akan suatu prestasi, tentunya akan memotivasi anak untuk melakukan yang terbaik demi tercapainya suatu tujuan.
Punishment juga diperlukan sebagai fungsi kontrol untuk mengembalikan perilaku anak kembali ke aturan yang telah kita buat.
Agar reward n punishment ini menjadi effektif, hendaknya dirancang dari awal, sebelum permasalahannya terjadi, silahkan merefer ke poin nomor 1 di atas. Lalu kemudian reward dan punishment ini benar-benar diberlakukan secara konsekwen seperti pada nomor 2 di atas.

7. Tataplah matanya ketika mengutarakan aturan dan nilai
Pastikan buah hati anda memahami apa yang anda sampaikan. Mintalah buah hati anda untuk melihat mata anda jika kita berbicara serius. Dengan kontak mata, anda membuatnya tidak hanya memahami kata-kata anda, tetapi memasukkan kata-kata anda kedalam rasa dan logikanya lebih dalam lagi.

8. Sabar dan ikhlas
Ujian kesabaran tidak pernah berhenti mendera kita ketika membesarkan anak. Ketika kita melarang, rasa kasian menjadi ujiannya. Ketika anak menangis karena permintaannya kita tolak, kesabaran kita untuk membiarkan anak menangis itu lah ujiannya. Apa jadinya jika setiap anak nangis, karena tangisannya itu kita jadi luluh dan meluluskan permintaannya? Yang akan terjadi adalah anak menggunakan tangisnya sebagai senjata untuk mendapatkan apa keinginannya. Ketika itu terjadi, maka kita telah membiarkannya menjadi anak manja dengan ketergantungan tinggi terhadap lingkungannya.

Ketika kita ingin konsekuen terhadap peraturan yang sudah ditetapkan, ujiannya adalah menjalankan aturan itu secara utuh. Ketika kita tegas, ujiannya adalah bertetap pendirian dalam ketegasan kita.
Sahabat, sabarlah, anak adalah titipan dari Allah untuk kita besarkan. Ikhlas lah, jika kesabaran kita sedang diuji, maka kita ingat bahwa yang kita sedang jalani adalah hanya karena Allah, hanya karena anak ini harus menjadi anak yang bisa mempertanggungjawabkan amalnya di hadapan Allah kelak. KarenaNya juga, kita bertanggung jawab menjadikan anak kita supaya sholeh sholehah. Agar kelak kita akan menghadap kepadaNya, kita telah mendidik anak kita untuk menjadi amal jariyah yang kita bawa ke liang kubur. Anak yang tidak dididik dengan baik bisa menjadi fitnah dunia dan akhirat.. Nauzubillah. Bayangkanlah sahabat, ketika kelak ditanya di yaumul hisab, kita ditanya telah dididik jadi apa anak kita, maka harusnya kita dengan senyum cerah ceria, menjawab pertanyaan itu dengan rasa bangga, karena kita telah mendidik anak kita menjadi hamba Allah yang taat, berguna bagi orang banyak. Amiin.

selanjutnya :
4. Kebutuhan emosional, dipenuhi dengan ekspresi kasih sayang

mendidik anak: 1. Kebutuhan spiritual, dipenuhi dengan penerapan nilai agama

mendidik anak dengan seimbang > 1. kebutuhan spiritual dipenuhi dengan penerapan nilai agama
4 kebutuhan dan pemenuhannya : spiritual | fisik | | psikologis | emosional

Kita pahami bersama bahwa kebutuhan spiritual adalah naluri manusia yang sangat mendasar, yaitu naluri ketuhanan, rasa ingin bergantung dan bersandar kepada suatu kekuatan yang kuat dan maha besar. Manusia pada dasarnya mengakui kelemahan dirinya, sehingga ia membutuhkan kekuatan besar itu. Adalah tugas orangtua untuk menanamkan pemahaman ketuhanan yang benar, sehingga anak kelak tidak menyandarkan ketergantungannya kepada sesuatu yang salah. Harga matinya adalah ketergantungan hanya bersandar kepada ketuhanan yang Esa, yaitu Tauhid, Allah yang satu, yang kemudian harus menjadi landasan ideologi si anak. Di mana ketika ini tidak dipahami oleh anak, maka dikhawatirkan si anak akan mencari sendiri, dan dengan mudah menjadi pribadi yang bergantung pada selain Tuhan. Bisa jadi kepada orang, kepada uang, atau lebih parah kepada makhluk ghaib dan ilah-ilah buatan manusia, yang bisa menyeret masa depannya ke dalam kemusyrikan.
Dengan terpenuhinya kebutuhan yang satu ini, maka niscaya anak akan memiliki kepribadian yang kuat, memiliki karakter yang terpusat kepada ideologi ketuhanannya, yaitu kepada aturan-aturan dan hukum yang telah ditetapkan oleh Alqur'an dan hadits, yang telah dirisalahkan melalui Rasulullah SAW.
Dengan pengetahuan tauhid yang digenggam sejak kecil, insyaAllah anak akan memaknai secara murni arti kehidupan di dunia ini, yang bahwa dunia ini hanyalah sementara, yaitu episode yang akan berakhir sebelum akhirnya akan masuk ke alam akhirat yang kekal nanti. Dengan bekal ideologi tauhid, anak akan sadar bahwa segala perilakunya akan ditimbang, sehingga ia akan berusaha melewati episode dunia ini dengan sebaik mungkin, yaitu menjalankan aturan dan Hukum yang telah ditetapkan oleh agamanya, sehingga ia memiliki visi untuk berhasil melewati hari hisab, dan berakhir di surga yang indah kelak.
Segala sesuatu ada ilmunya, orangtua haruslah menjadi pribadi yang pembelajar. Karena segala sesuatu di dalam islam ada aturannya, maka orangtua semestinya terus menggali dan menerapkan aturan dan hukum di dalam kehidupan sehari-hari, yang akan menjadi model cerminan bagi anak sepanjang ia dibesarkan. Ini tentunya disesuaikan dengan umur anak, yang mana bobot nilai syariat yang diterapkan juga berkembang sesuai umur anak. Anak balita dan anak yang sudah akhilbaligh tentusaja tidak bisa diperlakukan secara sama, anak smp, sma dan kuliah juga memerlukan penanganan yang khusus dan khas, dan seterusnya. Intinya, kemampuan dan pengetahuan orang tua harus berkembang terus, mendahului dari kebutuhan umur anaknya.

selanjutnya :
2. KEBUTUHAN FISIK, DIPENUHI DENGAN OLAH RAGA YANG CUKUP

Mendidik anak dengan keseimbangan

Sering kali kita temui kasus orang yang berumur dewasa, namun mempunyai kepribadian yang belum dewasa. Ini bisa terlihat dari perilakunya seperti adanya sifat manja, keinginannya harus selalu dipenuhi, kurang gigih berusaha, tidak teguh pendirian, tidak bertanggungjawab, kurang pertimbangan, bergantung, kurang kepemimpinan dll. Permasalahan seperti ini tidaklah terlepas dari pola didik ketika ybs dibesarkan sejak kecil. Kepribadian adalah refleksi dari masa lalu, yang merupakan buah yang dipetik dari salah satu faktor terbesar yaitu pola didik orangtua. Marilah kita terus menggali bagaimana cara menjadi orangtua yang berkompeten untuk mendidik anak-anak kita menjadi manusia yang berkarakter.

Kasus di atas adalah contoh permasalahan yang ditemui pada orang-orang dengan pola didik yang tidak seimbang, yaitu pola didik dengan limpahan belaian kasih sayang yang tidak diiringi dengan aturan jelas dan kedisiplinan. Juga hal lain berupa rohani dan jasmani tidak dibangun secara seimbang.

Untuk merumuskan pola didik yang seimbang, saya mencoba membuat pendekatan dari pemenuhan kebutuhan manusia yang mendasar, yang dibahas pada postingan berikut :

1. Kebutuhan spiritual, dipenuhi dengan penerapan nilai agama


2. Kebutuhan fisik, dipenuhi dengan olah raga yang cukup


3. Kebutuhan psikologis, dipenuhi dengan penerapan nilai disiplin dan aturan yang jelas


4. Kebutuhan emosional, dipenuhi dengan ekspresi kasih sayang