Kamis, 18 Agustus 2011

Mendidik anak: (4) Kebutuhan emosional, penuhi dengan ekspresi kasih sayang

mendidik anak dengan seimbang > Kebutuhan emosional, penuhi dengan ekspresi kasih sayang

4 kebutuhan dan pemenuhannya : spiritual | fisik | | psikologis | emosional

Sahabatku sekalian, coba kita bayangkan anak seperti apa yang akan tumbuh tanpa ada belaian kasih sayang. Apa rasanya jadi anak yang ia tidak tahu apakah ibu bapaknya menyayanginya atau tidak. Seperti apa jadinya anak yang tidak kenal dengan ekspresi perasaan sayang, peduli dan kasih terhadap sesama? Beberapa orang tua yang kurang beruntung akan mengerahkan segala daya upaya untuk mengatasi anaknya yang mengidap autisme. Lalu jika kemudian kita mempunyai anak normal, tetapi kita tidak menjadikannya orang yang ekspresif dalam peduli dan kasih terhadap sesama, maka seolah-olah kita tidak bersyukur atas kesempurnaan nikmat Allah berupa anak ini.

Jika dunia barat telah mengajarkan kita, " ucapkan lah ai lop yu setiap hari", maka sebetulnya agama Islam yang telah sempurna ini juga telah mengajarkan kita, melalui Rasulullah SAW bagaimana adab untuk mengekspresikan rasa peduli dan sayang kita, terhadap anak, terhadap orangtua, tetangga, istri, suami, saudara, orang miskin, bahkan terhadap kaum kafir yang tidak memerangi, atau bahkan sanderaan perang.. dan lain-lain.

Sebetulnya, mengekspresikan sayang terhadap anak ini adalah paling mudah, dan paling menyenangkan daripada 3 pemenuhan kebutuhan anak lainnya seperti pada postingan-postingan sebelumnya. Kita dengan mudah terbuai rasa sayang jika melihat binar mata anak kita yang lucu dan menggemaskan. Kita akan menggerakkan tangan kita untuk membelai rambut anak untuk membuatnya tidur, atau sekedar karena bertemu dengannya di pintu kamar. Yang tak kalah penting untuk dilakukan adalah : sampaikanlah perasaan sahabat kepada anak, dengan kata-kata yang secara jelas ia bisa dengar, dan ia pahami dengan rasa dan logikanya. Sampaikanlah kata-kata seperti "abi kangen sama kamu nak", atau "Ummi sayaaang banget sama kamu nak", sampaikanlah dengan kontak mata, tatap matanya, dan expresikan perasaan anda. Di kesempatan lain, mintalah anak anda untuk mengekspresikan perasaannya untuk kita.

Ketika kita tengah mengajari atau mengingatkan anak kita, duduklah jika ia duduk. Senyumlah ketika anda berbicara dengannya. Puaskanlah hatinya ketika ia sedang bermain, karena ini telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Beliau menegur seorang bapak yang menghentikan anaknya bermain. Rasa puas itu yang akan menyempurnakan perkembangan jiwanya.

Ya betul, poin ke 4 ini adalah paling mudah.. yaitu pemenuhan kebutuhan emosional. Maka dari itu penulis mengingatkan diri sendiri dan sahabat semua, untuk tidak melupakan 3 point sebelumnya, yaitu pemenuhan kebutuhan spiritual, fisik, dan psikologis. Karena kita harus menjaga keseimbangan dalam mendidik anak-anak kita. 

Wallahu'alam Bisshowab
AbiFarros

Mendidik anak: 2. Kebutuhan fisik, penuhi dengan olah raga yang cukup

mendidik anak dengan seimbang > Kebutuhan fisik, penuhi dengan olah raga yang cukup
4 kebutuhan dan pemenuhannya : spiritual | fisik | | psikologis | emosional


Kita sering menemukan perilaku yang mungkin tidak menyenangkan pada anak kita, seperti susah tidur, tidak berhenti mengganggu adiknya, terlalu enerjik di dalam rumah, berlarian dan berteriak tanpa lelah, dan seperti punya keinginan yang tidak ada habis-habisnya.
Ini terjadi tidak lain karena anak tidak berkesempatan untuk melepaskan energinya yang berlebih. Anak kita beri makan, berupa asupan nutrisi, kalori dan energi yang masuknya bisa lebih dari 3 kali sehari. Namun sering kita lupa bahwa energi itu tersimpan di dalam tubuh dan ototnya, tanpa dilepaskan dan membiarkannya bertumpuk tanpa dimanfaatkan.

Tubuh manusia di desain secara komplex untuk mencari makanan dari alam. Secara alami, manusia melakukan upaya keras secara fisik untuk memenuhi kebutuhan makanan ini. Dahulu kala, manusia harus menombak hewan, mengejar-ngejar unggas, menangkap ikan, berkuda, memanah, bercocok tanam dan berpindah ladang untuk bisa makan. Belum lagi aktifitas fisik lainnya seperti membangun gubug, memotong kayu dan lain sebagainya. Selama umur manusia, hal ini secara konsisten dilakukan. Keadaan kita sekarang dengan keberlimpahan makanan adalah keadaan yang mungkin hanya terjadi baru di 1 abad kebelakang, sejak terjadinya revolusi industri, yang menggelembungkan ekonomi dunia sehingga manusia mudah untuk mendapatkan kebutuhan primer bernama makanan ini. Akibatnya, yang terjadi adalah kebalikan. Manusia kini dengan mudah bisa makan, sudah tersusun rapi tinggal ambil di rak super market, tanpa harus melakukan aktifitas fisik seperti manusia di periode sebelum abad ini. Karena itu tidak heran di negara maju dan high economy society, penyakit obesitas atau kelebihan berat badan menjadi masalah paling umum.
Hal ini menerangkan secara jelas, kebutuhan manusia untuk berolah raga. Sebagaimana Rasulullah SAW juga melakukan balap lari dengan istrinya, Aisyah RA. Demikian juga kebutuhan ini harus dipenuhi oleh kita dan anak-anak kita. Anak yang seharian di depan tv, mondar-mandir di dalam rumah yang kegiatannya hanya makan dan tidur saja, tentu menjadi tidak seimbang. Kita hendaknya membawanya ke luar dan mengeksplor energi fisiknya menjadi kegiatan positif, melepaskan kelebihan kalori, dan memberikan kesempatan lebih banyak untuk anak menjelajahi alam luar dan mengeksplorasi lingkungannya. Juga tentunya melatih kemampuannya untuk bersosialisasi dengan anak lain, dan interaksi dengan orang lain.
Anak yang tidak terlatih fisiknya untuk bermain diluar, akan menyimpan masalah lebih banyak dari sekedar kelebihan energi. Hal ini bisa membawa lebih jauh ke depresi, stress, emosi yang tidak terkendali, tidak tahu keinginan yang jelas, dan tidur yang tidak nyenyak. Seperti halnya ikan besar yang masuk aquarium kecil, singa yang dikurung dikandang, atau burung yang biasa terbang kemudian masuk ke sangkar yang sempit.


selanjutnya : 

3. KEBUTUHAN PSIKOLOGIS, DIPENUHI DENGAN PENERAPAN NILAI DISIPLIN DAN ATURAN YANG JELAS


Mendidik anak : 3. KEBUTUHAN PSIKOLOGIS, PENUHI DENGAN DISIPLIN

mendidik anak dengan seimbang > KEBUTUHAN PSIKOLOGIS, PENUHI DENGAN DISIPLIN

4 kebutuhan dan pemenuhannya : spiritual fisik | | psikologis | emosional
Ternyata menjadi tegas yang efektif itu adalah menyampaikan sesuatu dengan tulus, relax, calm, berwibawa dan penuh keyakinan. Dengan begitu energi secara utuh akan tersampaikan kpd lawan bicara.
sebaliknya jika mencoba tegas dengan cara ngomel, menggerutu, cerewet, emosi dll, maka energi akan menguap menjadi omelan yang emosional itu.
masih kah kita akan menganggap ketegasan itu adalah kejam? NO!!.. tegas adalah bentuk kasih sayang yang akan membangun kepribadian

Manusia yang tidak memiliki aturan, seolah seperti hewan liar yang ada di hutan belantara. Padahal jika kita pelajari, sebetulnya hewan diberi naluri untuk menjalankan aturan-aturan alami. Misalnya, sekawanan anjing akan menyeleksi siapa pemimpin dari kawanan itu. Anjing mana yang paling cepat, paling besar, dan paling dominan lah yang akan memimpin kawanan itu. Begitu juga dengan hewan lainnya, mengikuti hukum yang selama ini kita kenal dengan hukum rimba. Anjing yang terlepas dari kawanannya dan dipelihara manusia, secara nalurinya, tetap memiliki kebutuhan untuk diatur. Yang mana jika si pemilik anjing tidak mengaturnya, maka anjing tersebut bisa menjadi dominan dan berlaku seenaknya di dalam rumah orang yang memeliharanya.
Kebutuhan akan aturan-aturan jelas adalah naluri manusia untuk menyempurnakan kondisi psikologisnya. Dengan aturan, manusia memiliki standar berfikir, berperilaku, dan bersosialisasi dengan orang lain. Standar ini lah yang biasa kita kenali dengan istilah nilai-nilai, atau norma-norma kehidupan. Ketika kita mendidik anak kita tanpa aturan-aturan, maka ia akan menjadi pribadi yang tidak mengenal nilai, tidak bisa di atur, atau lebih jauh menjadi pribadi yang anti sosial. Ketika anak tidak dibimbing dengan aturan, maka ia tidak mengenali displin, komitmen, dan tanggung jawab atas aturan yang berlaku.
Kita sebagai orang tua idealnya membekali anak-anak dengan nilai-nilai dan aturan. Jika ini tidak dilakukan, 2 kemungkinan yang akan terjadi. Anak kita dicap kurang ajar oleh orang lain, atau anak kita harus bergesekan dulu dengan lingkungannya, sebelum akhirnya ia mendapatkan nilai itu dari luar rumah, bukan dari tangan kita sendiri. Nah bahayanya adalah ketika ia menyerap nilai dari luar, tidak ada jaminan bagi kita untuk memastikan bahwa nilai itu adalah nilai yang benar, syar'ie, dan bisa dipertanggung jawabkan, atau itu hanya nilai yang ia dapatkan dari teman-teman seusianya, atau bahkan nilai yang bertentangan dengan akidah agama kita.
Penerapan aturan bisa dilakukan dengan latihan-latihan seperti ini :


1. Buatlah perjanjian : Aturan main harus jelas dan antisipatif, sebelum kejadiannya berlaku.
contoh : kita punya balita yang akan kita bawa pergi ke supermarket, dan kita khawatir jika si anak akan menjadi rewel dan membuat keributan. maka kita bisa mengantisipasinya dari sebelum kekhawatiran itu terjadi. Misalnya membuat perjanjian dengan mengatakan "nak, nanti jadi anak yang manis ya, kalau anak manis itu baik, bergembira, dan nurut sama ibu, kalau nggak nurut, ibu ngga mau bawa kamu lagi.." [DEAL]
Ini akan lebih bermanfaat daripada kita memarahi anak ketika sudah terjadi anak rewel dan meronta-ronta di pasar. dengan kesepakatan, kita bisa menagih janjinya yang sudah dia sepakati di awal.


2. Konsisten terhadap apa yang telah ditetapkan.
Apa yang sudah disepakati dengan anak, harus kita pegang secara konsekwen. Ketika kita sudah melarang untuk suatu hal, maka tidak ada ceritanya karena kasian sama anak, kita merubah aturannya menjadi boleh. ketika ini terjadi, yang akan berlaku adalah anak merasa keinginannya akan mudah diikuti, dan aturan dari mulut kita menjadi tidak berharga. Mereka bisa menjadi imun terhadap aturan kita.


3. Bangun kalimat dengan kata-kata positif
contoh : 
a. ketika anak mulai mau menangis, lebih baik mengatakan "Nak, ayo mana senyumnya, anak baik kan suka senyum dan senang hati?" daripada "ayo jangan nangis ah, kalo nakal ibu marah nanti"
b. Ketika anak menarik tangan kita untuk memaksa kita pergi ketempat yang dia inginkan, sedangkan kita sedang sibuk, maka lebih baik mengatakan, "Sabar ya sayang, kalau ummi sudah selesai nanti kita kesana, sabar ya nak ya... "  daripada ngomel "gimana sih rewel amat? ngga liat apa ummi lagi repot, tunggu dong,... diem!! ", yang kemudian anak bukannya jadi diem, tapi jadi tambah rewel, dan meronta-ronta.


4. Bersikap tegas dengan wibawa, bukan dengan emosi
Ternyata menjadi tegas yang efektif itu adalah menyampaikan sesuatu dengan tulus, relax, calm, berwibawa dan penuh keyakinan. Dengan begitu energi secara utuh akan tersampaikan kpd lawan bicara.
sebaliknya jika mencoba tegas dengan cara ngomel, menggerutu, cerewet, emosi dll, maka energi akan menguap menjadi omelan yang emosional itu.
masih kah kita akan menganggap ketegasan itu adalah kejam? NO!!.. tegas adalah bentuk kasih sayang yang akan membangun kepribadian

5. Satu kata antara ayah dan ibu, Hindari standar ganda
Hindarilah standar ganda, misalnya ibu melarang, tetapi ayah membolehkan. Atau ibu sedang menegur kesalahan anak, ayahnya membela anak. Standar ganda akan membuat anak bingung, yang akhirnya tidak mengindahkan kewibawaan orangtuanya.

6. Berlakukan reward dan punishment
Reward yang merupakan penghargaan kepada pencapaian anak akan suatu prestasi, tentunya akan memotivasi anak untuk melakukan yang terbaik demi tercapainya suatu tujuan.
Punishment juga diperlukan sebagai fungsi kontrol untuk mengembalikan perilaku anak kembali ke aturan yang telah kita buat.
Agar reward n punishment ini menjadi effektif, hendaknya dirancang dari awal, sebelum permasalahannya terjadi, silahkan merefer ke poin nomor 1 di atas. Lalu kemudian reward dan punishment ini benar-benar diberlakukan secara konsekwen seperti pada nomor 2 di atas.

7. Tataplah matanya ketika mengutarakan aturan dan nilai
Pastikan buah hati anda memahami apa yang anda sampaikan. Mintalah buah hati anda untuk melihat mata anda jika kita berbicara serius. Dengan kontak mata, anda membuatnya tidak hanya memahami kata-kata anda, tetapi memasukkan kata-kata anda kedalam rasa dan logikanya lebih dalam lagi.

8. Sabar dan ikhlas
Ujian kesabaran tidak pernah berhenti mendera kita ketika membesarkan anak. Ketika kita melarang, rasa kasian menjadi ujiannya. Ketika anak menangis karena permintaannya kita tolak, kesabaran kita untuk membiarkan anak menangis itu lah ujiannya. Apa jadinya jika setiap anak nangis, karena tangisannya itu kita jadi luluh dan meluluskan permintaannya? Yang akan terjadi adalah anak menggunakan tangisnya sebagai senjata untuk mendapatkan apa keinginannya. Ketika itu terjadi, maka kita telah membiarkannya menjadi anak manja dengan ketergantungan tinggi terhadap lingkungannya.

Ketika kita ingin konsekuen terhadap peraturan yang sudah ditetapkan, ujiannya adalah menjalankan aturan itu secara utuh. Ketika kita tegas, ujiannya adalah bertetap pendirian dalam ketegasan kita.
Sahabat, sabarlah, anak adalah titipan dari Allah untuk kita besarkan. Ikhlas lah, jika kesabaran kita sedang diuji, maka kita ingat bahwa yang kita sedang jalani adalah hanya karena Allah, hanya karena anak ini harus menjadi anak yang bisa mempertanggungjawabkan amalnya di hadapan Allah kelak. KarenaNya juga, kita bertanggung jawab menjadikan anak kita supaya sholeh sholehah. Agar kelak kita akan menghadap kepadaNya, kita telah mendidik anak kita untuk menjadi amal jariyah yang kita bawa ke liang kubur. Anak yang tidak dididik dengan baik bisa menjadi fitnah dunia dan akhirat.. Nauzubillah. Bayangkanlah sahabat, ketika kelak ditanya di yaumul hisab, kita ditanya telah dididik jadi apa anak kita, maka harusnya kita dengan senyum cerah ceria, menjawab pertanyaan itu dengan rasa bangga, karena kita telah mendidik anak kita menjadi hamba Allah yang taat, berguna bagi orang banyak. Amiin.

selanjutnya :
4. Kebutuhan emosional, dipenuhi dengan ekspresi kasih sayang

mendidik anak: 1. Kebutuhan spiritual, dipenuhi dengan penerapan nilai agama

mendidik anak dengan seimbang > 1. kebutuhan spiritual dipenuhi dengan penerapan nilai agama
4 kebutuhan dan pemenuhannya : spiritual | fisik | | psikologis | emosional

Kita pahami bersama bahwa kebutuhan spiritual adalah naluri manusia yang sangat mendasar, yaitu naluri ketuhanan, rasa ingin bergantung dan bersandar kepada suatu kekuatan yang kuat dan maha besar. Manusia pada dasarnya mengakui kelemahan dirinya, sehingga ia membutuhkan kekuatan besar itu. Adalah tugas orangtua untuk menanamkan pemahaman ketuhanan yang benar, sehingga anak kelak tidak menyandarkan ketergantungannya kepada sesuatu yang salah. Harga matinya adalah ketergantungan hanya bersandar kepada ketuhanan yang Esa, yaitu Tauhid, Allah yang satu, yang kemudian harus menjadi landasan ideologi si anak. Di mana ketika ini tidak dipahami oleh anak, maka dikhawatirkan si anak akan mencari sendiri, dan dengan mudah menjadi pribadi yang bergantung pada selain Tuhan. Bisa jadi kepada orang, kepada uang, atau lebih parah kepada makhluk ghaib dan ilah-ilah buatan manusia, yang bisa menyeret masa depannya ke dalam kemusyrikan.
Dengan terpenuhinya kebutuhan yang satu ini, maka niscaya anak akan memiliki kepribadian yang kuat, memiliki karakter yang terpusat kepada ideologi ketuhanannya, yaitu kepada aturan-aturan dan hukum yang telah ditetapkan oleh Alqur'an dan hadits, yang telah dirisalahkan melalui Rasulullah SAW.
Dengan pengetahuan tauhid yang digenggam sejak kecil, insyaAllah anak akan memaknai secara murni arti kehidupan di dunia ini, yang bahwa dunia ini hanyalah sementara, yaitu episode yang akan berakhir sebelum akhirnya akan masuk ke alam akhirat yang kekal nanti. Dengan bekal ideologi tauhid, anak akan sadar bahwa segala perilakunya akan ditimbang, sehingga ia akan berusaha melewati episode dunia ini dengan sebaik mungkin, yaitu menjalankan aturan dan Hukum yang telah ditetapkan oleh agamanya, sehingga ia memiliki visi untuk berhasil melewati hari hisab, dan berakhir di surga yang indah kelak.
Segala sesuatu ada ilmunya, orangtua haruslah menjadi pribadi yang pembelajar. Karena segala sesuatu di dalam islam ada aturannya, maka orangtua semestinya terus menggali dan menerapkan aturan dan hukum di dalam kehidupan sehari-hari, yang akan menjadi model cerminan bagi anak sepanjang ia dibesarkan. Ini tentunya disesuaikan dengan umur anak, yang mana bobot nilai syariat yang diterapkan juga berkembang sesuai umur anak. Anak balita dan anak yang sudah akhilbaligh tentusaja tidak bisa diperlakukan secara sama, anak smp, sma dan kuliah juga memerlukan penanganan yang khusus dan khas, dan seterusnya. Intinya, kemampuan dan pengetahuan orang tua harus berkembang terus, mendahului dari kebutuhan umur anaknya.

selanjutnya :
2. KEBUTUHAN FISIK, DIPENUHI DENGAN OLAH RAGA YANG CUKUP

Mendidik anak dengan keseimbangan

Sering kali kita temui kasus orang yang berumur dewasa, namun mempunyai kepribadian yang belum dewasa. Ini bisa terlihat dari perilakunya seperti adanya sifat manja, keinginannya harus selalu dipenuhi, kurang gigih berusaha, tidak teguh pendirian, tidak bertanggungjawab, kurang pertimbangan, bergantung, kurang kepemimpinan dll. Permasalahan seperti ini tidaklah terlepas dari pola didik ketika ybs dibesarkan sejak kecil. Kepribadian adalah refleksi dari masa lalu, yang merupakan buah yang dipetik dari salah satu faktor terbesar yaitu pola didik orangtua. Marilah kita terus menggali bagaimana cara menjadi orangtua yang berkompeten untuk mendidik anak-anak kita menjadi manusia yang berkarakter.

Kasus di atas adalah contoh permasalahan yang ditemui pada orang-orang dengan pola didik yang tidak seimbang, yaitu pola didik dengan limpahan belaian kasih sayang yang tidak diiringi dengan aturan jelas dan kedisiplinan. Juga hal lain berupa rohani dan jasmani tidak dibangun secara seimbang.

Untuk merumuskan pola didik yang seimbang, saya mencoba membuat pendekatan dari pemenuhan kebutuhan manusia yang mendasar, yang dibahas pada postingan berikut :

1. Kebutuhan spiritual, dipenuhi dengan penerapan nilai agama


2. Kebutuhan fisik, dipenuhi dengan olah raga yang cukup


3. Kebutuhan psikologis, dipenuhi dengan penerapan nilai disiplin dan aturan yang jelas


4. Kebutuhan emosional, dipenuhi dengan ekspresi kasih sayang



Minggu, 12 Juni 2011

buka warung makan gratis untuk bersedekah??

Sudah 2 hari gw tdk di rumah karena lg nginep di luarkota di rmh seorang teman. Gw menjajaki peluang kerjasama dgn teman yg sepasang suami istri paruhbaya ini. Ada kemistri tertentu memang untuk bosnis bareng sama pasangan ini. Terutama karena mereka punya usaha yang unik, sebagaimana kepribadian mereka yang unik.. Haa.. Dari hal unik ini saja sebetulnya sudah bisa hampir memenuhi kunci sukses sebuah bisnis.. Krn gw berkesimpulan -dari 4 tahun kuliah di sekolah bisnis- ternyata intinya adalah bagaimana menciptakan bisnis tanpa persaingan dengan diferensiasi, positioning, dan hal lainnya termasuk mengeliminir pesaing sejak sebelum bisnis bdimulai dengan memilih produk yang UNIK dan original. Maka dari itu satu kriteria penting sudah gw dapet dari temen yang calon partner gw ini.
Selain itu jga gw emang merasa nyaman sama 2 orang ini, pastinya krn gw tau gw jug punya personaLity yang ngga umum alias mahiwal bin nyeleneh ataw wierdo dan semacamnya..
Pengakuan barusan di atas bukan artinya dalam tulisan ini gw akan cerita tentang diri dan keanehan gw.. Haha.. Lebih aman gw akan ngomongin keanehan 2 sejoli ini... Hee..
Sebut aja kakang dan teteh. Pagi kemaren, langit masih gelap.. Si kakang keluar dr kamarnya dan ngajakin gw pergi b2 naek motor. "Hayu mau ikut ngga.. Tuh nasi uduk sekardus udah siap tinggL dibagiin. Sok ikut Ja biar tau rasanya" katanya... Ternyata bagiin nasi uduk gratis adalah kegiatan ruti si kakang setiap pagi.. Waw, gw pikir jarang- jarang nih dapet pengalami. Kaya begini.. Secara biasanya urusan beginian cuman jadi kegiatan setaun sekali doang pas bulan puasa.. Dan ngga pake lama berangkatlah kami b2, do'i bawa motor, gw bawa kerdus dibonceng di belakang, bertugas buat ngasih2in bungkusan nasi uduk ke orang-orang yang akan ditunjuk kakang.
Dia bilang ngga setiap hari sih dia bagiin sendiri, biasanya adiknya yang bagiin, kakang bayarin doang.
Di tengah jalan di sela- sela ngebagiin bungkusan, gw ngebayangin satu suasana yang diriwayatkan di jaman kejayaan islam dipimpin oleh sahabat Rasulullah SAS dulu, yang di zaman itu kondisinya umat islam begitu makmur sehingga petugas amil zakat tidak bisa menemui mustahik, atau penerima zakat. Ya karena penduduk sudah tercukupi semua kebutuhannya. Di situ gw mikir, andai kalau orang yg kaya si kakang ini jumlahnya banyak, maka sedekah tidak hanya akan menjadi habit, tapi mungkin menjadi sebuah norma sosial.. Yang Kalo nggak sedekah jadi malu krn ga normal.. Dan kalu itu bergulir terus sehingga memancing keberkahan Allah dan Allah menganugerahi seluruh negeri ini menjadi makmur semua penduduknya, yg sy bayangkan adalah mungkin si kakang jg bingung mau bagiin nasi uduk ke siapa kelak.. Walaupun bayangan itu lucu, tapi ternyata yang ada gw nangis.. Sambil masih di motor dengan terpaan angin yang menyibak2 rambut gw yang keriting ini.. Gw nangis.. Haa.. Yang gw rasakan adalah sebegitunya gw merindukan suasana madani dimana orang islam menjadi umat yang dimuliakan oleh isi dunia. Tidak seperti sekarang yang kondisi umat ini sedang di fitnah, dipecahbelah, dianggap bodoh, ditutupi dari peluang, diexploitasi manusia dan harta kekayaan alamnya.. Dicap jorok kumuh tidak berpendidikan dan cap cap yang menyedihkan lainnya..
Setelah kita berdua beres bagiin nasi, si kakang cerita bahwa ada loh temannya yang buka rumah makan gratis, hanya untuk mengupayakan komitmennya untuk menjadikan sedekah manjadi habbitnya..
Published with Blogger-droid v1.6.9

Rabu, 08 Juni 2011

Nyobain Gambar perspektif

Dengan pengetahuan seadanya.. bekel dari pelajaran SMA dulu, sy coba bantuin papa mertua untuk memvisualisasikan apartemen miliknya yang akan di isi furnitur oleh kontraktor..
well.. namanya juga seadanya.. dan sy cuman bisa gambar garis lurus.. tidak ada pernak pernik dan ornamen, maksudnya hanya ingin ruangan itu tergambarkan saja..
Yang sy ingat cuman titik hilang yang ngilangnya itu pas di garis horizon..
begini penangkarannya :

livingroom perspective

kitchen - perspective

tv set, after fine tuning

tv set, before fine tuning.. too crowds

Hadiah nama untuk buah hati.. hatikuhatiku...

Anakku... Farros, umurnya sekarang 2,5 tahun, sedang lagi seneng-senengnya ngomong hatikuhatiku... terus ketawa.. dan ngomong lagi.. hatiku hatiku.. terus ketawa lagi...
ternyata dia itu lagi suka banget sama lagu disini senang di sana senang , di mana-mana Hatiku hatiku senang...
haa... sepertinya dia sedang menikmati kata-kata 'hatiku' yang dia baru bisa ucapkan. Alhamdulillah, kian hari kian lucu saja Farros..
Baru 1 mingguan ini lah dia kebali bersama saya dan istri, setelah sebelumnya farros di bawa sama 'nyai' (nenek) ke palembang. Mungkin nenek dan kakeknya merindukan ada anak kecil di rumahnya, yang mana sekarang semenjak kakek faros pensiun, rumahnya terasa sepi.. semua kakak dan adik istri saya tidak tinggal di Palembang.

2 minggu Farros di Palembang, selama itu juga abi dan umminya gelisah terus kalau ingat dia.. ahahha.. ya terang saja, farros kan belum pernah sama sekali pisah tidur sama umminya.. apalagi dipisah 2 minggu berjauhan pula terpisahkan dengan selat sumatera yang jauh itu.. halah..
Jadinya gitu deh.. sekarang rasanya pengen peluuuk aja si aa.. (panggilan kakak untuk orang sunda ). Yang kami tidak antisipasi adalah.. ternyata kepulangan aa Farros ini membuat adiknya (aisyah) harus menyesuaikan keadaan lagi. awalnya Aisyah seperti tidak bisa terima, kalau perhatian umminya harus terbagi ke dia dan Farros.. Aisyah seperti sangat cemburu dan ingin menguasai umminya. Tapi alhamdulillah, setelah 3 hari aisyah sepertinya sudah adaptasi.. seperti hari-hari lainnya saja. Kepergian Farros selama 2 minggu itu memang saya dan istri niatkan supaya ada manfaat bagi Aisyah untuk merasakan perhatian penuh dari abi dan Umminya, tanpa ada si aa. Dan insyaAllah, kini ia sudah mengalaminya.
Foto-foto ini di ambil sekitar 1 bulan yang lalu, walaupun di dalam foto itu dia terlihat happy, tapi sebetulnya itu hari 'naas' buat dia... Alhamdulillah Allah masih melindungi dan memberi keselamatan bagi aa Farros. Hari itu, di tree house cafe bandung, ada 3 kejadian yang membuat abi dan ummi pucet pasi..
yang pertama, Farros main di pinggir kolam ikan, dan ia terlalu deket ke kolam sehingga sempat terpeleset ke kolam karena menginjak batu yang licin.. Aa farros pun sempat tenggelam sekitar 3 detik, karena alhamdulillah langsung bisa di selamatkan oleh sepupu saya.. a Tonton.
Kejadian ke 2, waktu aa farros mau turun dari tree house, saya pegang dia sampai ke anak tangga terakhir, tapi ternyata si aa belum bisa pegangan dengan erat, dan lepaslah pegangannya pada tangga, dan terdengar bunyi 'duk' yang melinukan.. astagfirullah.. si Aa jatoh ke lantai.. Nah untuk meredakan tangisnya.. saya beri minum dan gendong, dan si ummi pun pergi membawanya untuk beli balon gas, yang membawa aa farros ke kejadian ke 3. haaa... masih ada lagi? yayayayaya.. belum 5 menit balon berbentuk pesawat yang ia bangga-banggakan itu bikin hatinya ceria, aa farros melepaskannya tanpa sengaja sampai balon itu terbang ke atas.. jauuh teruuuus... ke ataaas dan sampai tidak terlihat sama sekali.. dan disitulah terdengar lagi lengkingan aa farros yang nangis lagi.. oohh my...

Farros Shiddiq
Begitulah kami beri nama anak pertama kami. Farros, kami temukan di buku nama islami buat anak yang ada di Gramedia. Sebetulnya ditulisnya sih Farras... lalu saya fikir, Farras kan bahasa arab, pasti orang arab membacanya dengan bunyi Farros.. maka dari itu saya Ambil nama depannya Farros, yang artinya (mohon di aminkan) pintar, cerdik, cekatan, pandai, dan lain-lain yang artinya setara dengan intelektualitas yang baik. Lalu diikuti dengan kata Shiddiq. Nah kata kedua ini tidak kami ambil dari kamus atau buku, namun kami ambil dari gelar Sahabat Rasulullah yang juga Mertua Rasulullah SAW, yaitu Abu Bakar AsShiddiq. Beliau di beri gelar asShiddiq (yang membenarkan) karena beliau yang senantiasa membenarkan perkataan Rasulullah SAW.
Farros Shiddiq, begitu kalau dibaca nama panjangnya. Do'a yang terkandung di dalamnya, adalah, kami beharap anak kami Farros Shiddiq bin Rahmawan Puspawijaya ini, kelak tumbuh menjadi anak yang pintar dan berilmu pengetahuan, yang ilmu pengetahuan itu bersifat kebenaran. Amiin. Dunia ini kini tengah dikuasai oleh sekelompok penguasa elit yang Pintar, tetapi ingkar terhadap kebenaran yang Rasulullah sampaikan. Maka dari itu, kami memberikan anak pertama kami sebuah nama yang lengkap, Farros Shiddiq, orang yang pintar lagi benar. Amiin Ya Rabbal 'alamin

coba posting dari email kantor

hmmm.. gimana jadinya?

--
PT. Bhayangprima Lintas Nusa
terminaltiket tour and travel
http://www.tiket-pesawat-online.com
Add: Jl. Raya Bogor Km21 no 09
Kafila business center
Jakarta Timur 13830
Telp: 0218778 0234, Fax : 02187780097
Hp  : 081318194245

Selasa, 07 Juni 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim... Posting pertama

Beberapa minggu yang lalu adik ipar Saya Ramon, ikut sebuah seminar keren tentang bagaimana cara menulis. Saya minta dia untuk langsung share apapun yang dia dapet di seminar itu.. jadilah sekarang Saya bikin blog ini sebagai awal aplikasi dari ilmu 'second hand' yang Saya dapet dari Ramon.. hehe

Saya merasa memang ini yang dibutuhkan sama orang Indonesia... keterampilan menulis. Karena dengan cara ini lah ilmu pengetahuan akan cepat tersebar luas, tidak sampai berhenti pada buku-buku yang penulisnya itu-itu saja.
Dalam 30 menit kedepan saya hanya akan melakukan pemanasan... coba yah .. terakhir kemarin saya latihan 15 menit pertama cuman dapat 300 kata, 15 menit ke2 dapat 450 kata, pas nyobain 30 menit, jadinya 600an kata, terakhir 30 menit yang  ke 2 sudah bisa hampir 1000 kata. sekarang berapa yah...

Jadi ternyata menulis itu tidak sulit, gimana aja rasanya seperti ngobrol, tapi kalau ngobrol, apa yang ada di dalam benak kita, kita komunikasikan dengan mulut, nah kalau menulis, kita keluarkan melalui tulisan atau ketikan.
Praktek pertama yang diajarkan oleh ramon, adalah menulis selama 15 menit untuk menceritakan bagaimana perasaan hari ini. Syaratnya gampang, diharuskan menulis tanpa menekan backspace, tanpa membaca ulang, tidak mengedit dan TIDAK BERHENTI SAMA SEKALI... haa.. ini awalnya memang challanging.. tapi setelah dicoba.. asyik juga. saya tidak pernah menyangka bahwa menulis bisa segampang ini. Pemanasan pertama ini membuat saya merasakan sendiri bahwa apa yang kita tulis betul-betul langsung tercurahkan dari kepala kita. Apa lagi latihan awal ini tidak menyuruh kita untuk mikir.. jadinya ya plong aja gituh... kaya air terjun .. hehe
Hari ini..
Hari ini perasaan saya happy.. bangun pagi karena mendengar bayiku yang 1.5 tahun udah cekikikan sendiri di tempat tidur.. ya hanya dia sendiri yang sudah bangun.. kebayang kan celoteh anak umur 1.5 tahun? ngoceh-ngoceh dengan suara yang menggemaskan.. pas saya liat.. yang ada ya makin gemes.. ngeliat pipi gembulnya menghimpit senyum lepas.. eh giginya cuman keliatan 2 lagih.. gede-gede ditengah.. duh gemesnya. Anakku yang ke dua ini memang suka bangun paling pagi.. tapi nanti jam 10 pagi juga biasanya dia sudah ngantuk lagi dan bobo siang.
Namanya Aisyah.. nama ini sudah kami rencanakan sejak sebelum menikah. Dulu saya dan calon istri pernah ngobrol di telpon (secara saya di jakarta dan do'i di palembang), kalau punya anak perempuan nanti, kita akan kasih nama Aisyah, seperti namanya putri Abu Bakar R.A yang dipersunting Rasulullah SAW menjadi istrinya.
Aisyah kami beri nama panjang Aisyah Izma Zhafira, 2 kata di belakang aisyah kami tambahkan agar menjadi do'a yang terus menerus disebut jika namanya dipanggil atau dibaca orang. Izma itu artinya privilege atau 'hak istimewa'. Maksudnya kami berharap agar Aisyah kelak Allah golongkan ke dalam orang-orang yang diberi keutamaan istimewa. Dicintai Allah karena ke sholihannya, diberikan tempat yang luhur di dunia, dan diberi tempat istimewa nanti kelak di akhirat.. amiin. Nah kata terakhir zhafira itukami hadiahkan padanya, karena mempunyai arti dalam bahasa inggris Triumph, atau Kemenangan, atau kesuksesan dalam bahasa Indonesia. Maksudnya, kami berharap bahwa Allah akan memudahkan jalannya menuju kesuksesan dunia dan akhirat.. Semoga ia kelak menjadi anak yang dapat menjadi amal zariyah kami yang saya dan istri akan bawa mati. semoga ia akan mendoakan kami kelak dengan do'a-do'a indah yang di ijabah.. Amiin..
Setelah ini saya akan menulis tentang nama anak laki-laki saya yang pertama, di postingan berikutnya..